TRENDING NOW
LEBAK, BX – Himpunan Mahasiswa Gunungkencana (HIMAGUNA) menyoroti kondisi ruas jalan Gunungkencana–Cirinten yang mengalami kerusakan cukup parah. Banyaknya lubang di sepanjang jalan tersebut dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat serta membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Diduga kerusakan jalan terlihat di sejumlah titik, termasuk di depan PGRI Gunungkencana yang setiap hari dilalui oleh mahasiswa, pelajar, tenaga pendidik, dan masyarakat umum. Saat hujan turun, lubang-lubang yang tergenang air kerap tidak terlihat oleh pengendara sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan, Senin (15/6/2026).
Ketua Umum HIMAGUNA, Pahru Roji, menyampaikan bahwa kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan karena menyangkut keselamatan masyarakat.
"Kami sangat prihatin melihat kondisi jalan Gunungkencana–Cirinten yang semakin rusak. Terlebih di depan PGRI, PUSKESMAS dan SDN 1 Gunungkencana, terdapat sejumlah titik diduga jalan yang hancur dan berlubang cukup dalam. Jalan ini setiap hari digunakan oleh mahasiswa, pelajar, guru, serta masyarakat. Jika tidak segera diperbaiki, kami khawatir akan menimbulkan kecelakaan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Pemerintah Kabupaten Lebak harus segera turun tangan dan menjadikan perbaikan jalan ini sebagai prioritas," tegas Pahru Roji.
Sementara itu, Wakil Ketua HIMAGUNA, Jimi Pratama, menilai bahwa kondisi infrastruktur jalan yang rusak telah memberikan dampak langsung terhadap aktivitas dan perekonomian masyarakat.
"Jalan merupakan urat nadi aktivitas masyarakat. Kerusakan yang terjadi saat ini bukan hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga menghambat mobilitas warga yang hendak bekerja, bersekolah, berdagang, maupun mengakses layanan kesehatan. Kami meminta Pemerintah Kabupaten Lebak dan dinas terkait untuk lebih responsif terhadap keluhan masyarakat serta segera melakukan perbaikan sebelum kerusakan semakin parah," ujar Jimi Pratama.
HIMAGUNA meminta pemerintah daerah untuk segera melakukan peninjauan lapangan dan mengambil langkah konkret dalam memperbaiki ruas jalan Gunungkencana–Cirinten demi menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
"Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai pemerintah menunggu adanya korban terlebih dahulu baru melakukan tindakan. Kami akan terus mengawal persoalan ini hingga ada langkah nyata dari pihak terkait," tutup Pahru Roji.(Red/Zam)
CILEGON, BX - Kapolres Cilegon AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, S.H., S.I.K., M.Si., menjagokan Tim Nasional (Timnas) Prancis sebagai kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Penilaian dan pernyataan tersebut disampaikan kepada BantenXpose.com, Senin (15/6/2026), di tengah meningkatnya antusiasme masyarakat menyambut perhelatan sepak bola terbesar di Piala Dunia. Selain memberikan prediksi, Kapolres juga mengajak masyarakat Cilegon menjaga ketertiban saat menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 saat ini.
Menurut AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, Prancis memiliki modal yang sangat kuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Selain itu ia juga menyoroti keberhasilan penyerang Timnas Prancis 'Kylian Mbappe'.
Ia menjelaskan, salah satu alasan utama adalah keberhasilan Kylian Mbappe Lottin di Piala Dunia 2022 ketika itu Prancis vs Argentina berhasil mengejar ketertinggalan sehingga menyamakan kedudukan dengan skor akhir 2-2, dan memaksa laga berlanjut kemudian berakhir adu penalti, ini menjadi indikator paling nyata.
"Penyerang Timnas Prancis yaitu Kylian Mbappe Lottin ini mempunyai mental juara dan chemistry tim lagi tinggi-tingginya,” ujarnya.
Selain faktor mental juara, Kapolres Cilegon menilai Prancis saat ini memiliki generasi emas baru yang dihuni para pemain muda bertalenta, tetapi telah memiliki pengalaman bertanding di level tertinggi.
Ia menyoroti seperti Kylian Mbappe Lottin dinilai menjadi kekuatan utama di sektor serangan berkat kecepatan dan kualitas yang telah dibuktikan ketika Piala Dunia 2022 kala itu.
“Untuk kilas balik pertandingan sengit di mana Timnas Prancis di Piala Dunia 2022 berhasil mengejar ketertinggalan dan memaksa laga berlanjut, berakhir adu penalti, skuad dalam tim dengan usia muda, tapi sudah banyak pengalaman. Dengan lini depan diisi Kylian Mbappe Lottin yang kecepatannya terbukti luar biasa,” tuturnya.
Tak hanya itu, kedalaman skuad Prancis juga menjadi alasan lain yang membuatnya optimistis. Menurutnya, hampir seluruh pemain yang dimiliki memiliki kualitas setara pemain inti.
“Tidak ada istilah pemain cadangan dalam timnas Prancis semuanya kelas dunia,” katanya.
Sementara itu, meningkatnya antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026 melalui kegiatan nobar juga menjadi perhatian jajaran Polres Cilegon di wilayah Polsek. AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, S.H., S.I.K., M.Si. mengimbau warga untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ia meminta penyelenggara maupun peserta nobar memperhatikan kenyamanan lingkungan sekitar, terutama terkait penggunaan pengeras suara hingga larut malam.
“Agar selalu menjaga ketertiban dan kenyamanan warga. Jaga volume suara apalagi kalau nobar kan sampai larut malam, dan imbauan Nobar Piala Dunia 2026 agar tetap aman dan kondusif,” pesannya.
Kapolres Cilegon juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dalam mendukung tim favorit masing-masing.
“Junjung tinggi sportivitas dan persaudaraan tanpa rasisme, ujaran kebencian, atau ejek suporter lain. Beda tim favorit tapi tetap saudara,” tegasnya.
Selain itu, Kapolres mengajak masyarakat Cilegon untuk dipersilahkan nobar bersama dan bersifat umum juga terbuka lebar di Polres Cilegon dan jajaran Polsek wilayah hukum Cilegon, dan imbau untuk menjauhi minuman keras dan narkoba selama kegiatan nobar berlangsung.
“Tolak miras dan narkoba di area nobar. Nikmati pertandingan dengan kepala dingin,” katanya.
Usai pertandingan selesai, warga juga diimbau untuk membubarkan diri secara tertib dan menghindari konvoi berlebihan yang berpotensi memicu gangguan keamanan.
“Selesai nobar, langsung bubar tertib, hindari konvoi berlebihan agar tidak memicu gesekan,” imbuhnya.
AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, berharap momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan antarwarga di Kota Cilegon, bukan justru memunculkan konflik akibat perbedaan dukungan terhadap tim tertentu.
“Mari jadikan Nobar Piala Dunia 2026 di Kota Cilegon, Banten sebagai ajang silaturahmi dan pemersatu warga. Dukung sportif, pulang dengan selamat,” pungkasnya.
Ia menambahkan, apabila masyarakat menemukan atau mengalami gangguan keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan nobar, dapat segera menghubungi layanan darurat Polri melalui nomor 110 atau mendatangi Polsek terdekat.(Red)
Zaenal Abidin Syuja’i
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari sebuah niat yang pada dasarnya mulia, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sebagai investasi sumber daya manusia masa depan.
Dalam perspektif pembangunan bangsa, tidak ada yang menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi generasi muda. Anak yang sehat secara fisik tentu memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi.
Namun demikian berbagai persoalan yang muncul dalam implementasi MBG menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah program ini telah dirancang dengan perencanaan yang matang, tata kelola yang kuat, dan mempertimbangkan prioritas pembangunan nasional secara proporsional?
Di tengah keterbatasan fiskal negara, setiap rupiah anggaran publik semestinya diarahkan pada program yang memberikan dampak terbesar bagi kemajuan bangsa. Karena itu, diskusi mengenai MBG tidak boleh berhenti pada aspek populisme kebijakan, tetapi harus menyentuh substansi efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara.
Pendidikan dan amanat Konstitusi
Konstitusi Indonesia menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Pasal 31 UUD 1945 secara tegas mengamanatkan negara untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional serta mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menyediakan ruang belajar, tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud tidak hanya bersifat akademik, melainkan juga mencakup pembentukan karakter, moralitas, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya saing global. Di sinilah muncul pertanyaan yang layak diajukan.
Ketika dunia pendidikan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, yakni kualitas guru yang belum merata, sarana pendidikan yang tertinggal, ketimpangan akses pendidikan, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi, serta kesejahteraan tenaga pendidik yang belum optimal, apakah pengalokasian anggaran yang sangat besar untuk MBG merupakan pilihan paling tepat?
Gizi penting, tapi bukan satu-satunya jawaban
Tidak dapat dipungkiri bahwa gizi berpengaruh terhadap kemampuan belajar anak. Namun kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh faktor gizi semata.
Banyak negara berhasil membangun sumber daya manusia unggul karena fokus pada kualitas sistem pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan budaya riset, dan peningkatan kompetensi guru. Gizi menjadi faktor pendukung, bukan satu-satunya instrumen pembangunan manusia.
Karena itu, jika MBG menghabiskan ruang fiskal yang sangat besar hingga berpotensi mengurangi efektivitas program pendidikan lainnya, maka evaluasi menjadi sebuah keniscayaan.
Pembangunan manusia memerlukan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan intelektual. Tubuh yang sehat memang penting, tetapi kecerdasan, karakter, dan kualitas pendidikan tetap menjadi penentu utama kemajuan bangsa.
Risiko salah menentukan prioritas
Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa kesalahan memilih prioritas seringkali menghasilkan pemborosan sumber daya yang besar. Program yang populer secara politik belum tentu menjadi program yang paling efektif secara pembangunan.
Ketika orientasi kebijakan lebih banyak diarahkan pada program-program yang mudah dilihat dan dirasakan dalam jangka pendek, sementara investasi jangka panjang seperti peningkatan kualitas pendidikan terabaikan, maka bangsa manapun berisiko kehilangan momentum untuk menciptakan generasi yang benar-benar unggul.
Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan global yang sangat kompleks. Revolusi teknologi, kecerdasan buatan, persaingan ekonomi dunia, dan perubahan geopolitik menuntut hadirnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan adaptif.
Tantangan tersebut tidak akan dapat dijawab hanya dengan program pemenuhan gizi. Sejatinya diperlukan transformasi pendidikan yang serius, terukur, dan berkelanjutan.
Tata kelola dan akuntabilitas
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah tata kelola program. Besarnya anggaran selalu berbanding lurus dengan besarnya risiko penyimpangan apabila pengawasan tidak berjalan optimal.
Munculnya berbagai persoalan administratif, dugaan ketidaksiapan pelaksanaan, hingga potensi penyalahgunaan anggaran harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Program sebesar MBG membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, transparansi penggunaan anggaran, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Tanpa tata kelola yang baik, niat mulia sekalipun dapat berubah menjadi beban fiskal dan sumber masalah baru.
Penutup
Perdebatan mengenai MBG sejatinya bukan pertentangan antara kebutuhan gizi dan kebutuhan pendidikan. Keduanya sama-sama penting. Persoalan utamanya adalah bagaimana negara menentukan prioritas dan memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan manfaat optimal bagi masa depan bangsa.
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat Konstitusi yang tidak boleh dikalahkan oleh pertimbangan jangka pendek. Program pemenuhan gizi harus berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan investasi yang lebih fundamental dalam pembangunan manusia, yaitu pendidikan yang berkualitas.
Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga generasi yang cerdas, berkarakter, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman. Di situlah ukuran keberhasilan sebuah kebijakan publik seharusnya ditempatkan.
Zaenal Abidin Syuja’i adalah pemerhati sosial, pendidikan, dan keislaman.(Red)



